Opini

Memilih Model Sosialisasi Sesuai Kebutuhan Masyarakat

Menakar Model Sosialisasi Efektif Sesuai Kebutuhan Lokal

(bagian 2) 

Memilih Metode Sosialisasi

Tentu merumuskan beragam jenis sosialisasi tidak bisa asal-asalan, penting untuk memahami karakter masyarakat maupun menggunakan media yang efektif dalam menyampaikan berbagai pesan. Mengabaikan masyarakat penerima sosialisasi maka upaya menyebarluaskan informasi yang kita lakukan tidak cukup efektif. Ada cukup beragam upaya yang dilakukan sebagai bentuk sosialisasi. Misalnya  model  sosialisasi dari KPU RI yang dilakukan seragam secara nasional yaitu perekrutam Relawan Demokrasi (Relasi), dan di Sukoharjo ada 11 basis sasaran untuk hal ini.  Pada Pemilu 2019 , mereka turun ke masyarakat menjelaskan berbagai hal terkait Pemilu 2019 ke basis yang memang menjadi basic dari mana mereka berasal dan harus turun kembali ke masyarakatnya.

KPU Kabupaten Sukoharjo sendiri sejak mulai tahapan Pemilu 2019 secara rutin turun langsung ke masyarakat. Tempat yang paling sering jadi sasaran sosialisasi adalah pasar tradisional. Karena disana banyak masyarakat  berkumpul, masih awam dengan sisitim Pemilu Serentak dan informasi harus  disampaikan secara langsung agar bila ada pertanyaan-pertanyaan yang krusial bisa langsung dijelaskan. Secara rutin seminggu 2 kali turun ke pasar yang ada di 12 kecamatan secara bergantian.

Pun kerjasama dengan berbagai institusi pendidikan juga dilaksanakan. Di institusi pendidikan sasarannya adalah pemilih pemula yang belum punya pengalaman memilih sehingga mereka harus diyakinkan mengapa mereka harus ikut memilih. Dalam sosialisasi ditemukan sebagian besar  tidak tahu berapa jumlah partai politik peserta pemilu 2019. Sosialisasi di  jalan raya dilakukan dan fokusnya lebih ke pembagian brosur, sekedar mengingatkan bahwa Pemilu akan segera digelar.

 

Sementara untuk menjaring masyarakat dengan mobilitas tinggi, memanfaatkan media baik media cetak, media massa hingga media elektronik. Media cetak  selain menggunakan selebaran, rutin mengirim update perkembangan Pemilu sehingga masyarakat tahu informasi terkini. Pun di media elektronik seperti radio atau televisi, menyampaikan beberapa informasi melalui talk show atau wawancara. Di portal web KPU, digunakan untuk terus berkabar bagaimana perkembangan persiapan Pemilu dan menjawab berbagai hal yang ditanyakan masyarakat. Tentu media sosial juga disentuh untuk menjangkau kalangan milenial maupun kelompok urban yang jarang memiliki waktu untuk mencari informasi secara langsung. Penyampaian informasi di media sosial juga disertai meme atau video pendek nan menarik hingga mengundang respon masyarakat. Bahkan saat hari pemilihan diselenggarakan lomba selfie untuk mendorong masyarakat menggaungkan keterlibatan dalam Pemilu.

 

Sosialisasi diatas yang dilakukan KPU Sukoharjo secara langsung, sementara ditingkatan bawah dilakukan oleh  PPK dan PPS selain persiapan pemilihan juga membuka diri untuk selalu menyampaikan informasi faktual tentang Pemilu.

 

Dalam menyiarkan sosialisasi ada beberapa topik yang memang  menjadi concern dan tidak semua dijelaskan. Karena masyarakat lebih banyak butuh tahu bagaimana menggunakan hak suaranya. Pemahaman tentang Pemilu dan Pilpres serentak adalah hal pertama yang disampaikan karena selama ini  (sebelum Pemilu 2019) Pemilu dan Pilpres diadakan di waktu yang berbeda. Warga  ditunjukkan contoh specimen surat suara. Pun dengan warna surat suara yang  beragam warna untuk tiap jenjang wakil rakyat. Warna abu-abu untuk surat  suara pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, warna kuning untuk surat suara DPR RI, warna merah untuk surat suara DPD, warna biru untuk surat suara DPRD Propinsi dan warna hijau untuk surat suara DPRD Kabupaten/Kota.  Saat menjelaskan, masyarakat ditunjukkan specimen atau contoh surat suara dengan ukuran dan warna sama persis dengan surat suara asli. Hanya bedanya pada foto, nama parpol maupun nama caleg yang tidak dipasang foto dan tidak ditulis nama sebenarnya. Yang penting juga disampaikan, tentang hari penyelenggaraan dan bagaimana memastikan masyarakat bisa memilih.

Menjelaskan pada generasi milenial relative lebih mudah dibandingkan dengan  lansia. Penjelasan kepada lansia dilakukan dengan perlahan serta  menggunakan bahasa Jawa. Sosialisasi di mall, car free day, pondok, kampus atau pabrik relative tidak membutuhkan waktu lama. Hal ini berbeda ketika sosialisasi dengan masuk pasar tradisional. Beberapa kali mesti menghentikan  langkah memastikan apakah para pedagang tahu dan faham bagaimana cara memilih. Pada sasaran  generasi milenial atau perkotaan petugas beberapa kali harus  menjelaskan informasi yang tidak benar alias hoax.

Bila sosialisasi dibeberapa lembaga pendidikan, pondok, pabrik  dilakukan di hari kerja sedangkan car free day atau pasar tradisional dilakukan saat hari libur Sabtu-Minggu. Karena memang saat itu cukup banyak warga berbelanja sehingga lebih efektif. Sementara sosialisasi melalui sosial media dilakukan tiap waktu. Fanspage, Instagram, facebook hingga website KPU Sukoharjo menyampaikan berbagai hal baik kebijakan, persiapan teknis, tata cara menggunakan hak suara dan informasi-informasi yang berhubungan dengan publik rutin disampaikan. Tingkat perhatian dan engagenya lebih mengena dan  kadang informasi itu dapat tersebar ke jaringan whatsapps grup. Meluaskan informasi memang upaya yang dilakukan  agar masyarakat tahu informasi terbaru. Belum lagi Pemilu serentak 2019 diiringi  narasi bohong, fitnah, adu domba bahkan sempat muncul isu KPU tidak netral.

Secara umum proses  sosialisasi pada penyelenggaraan Pemilu 2019  di Sukoharjo berjalan lancar dan sukses tanpa  masalah yang berarti. Metode ini akan dipertahankan dalam sosialisasi pada   Pemilu 2024. Tantangan dan kendala yang bakal dihadapi  tidak selalu sama namun setidaknya suksesnya Pemilu 2019 menjadi modal  penting untuk sosialisasi pada Pemilu 2024 ini.*

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 3,105 kali